Resusitasi Jantung Paru Pada Bayi
Standar Prosedur Operasional
Resusitasi Jantung Paru Pada Bayi
Download SPO Resusitasi Jantung Paru Pada Pasien Bayi atau NeonatusPengertian
Melakukan pertolongan pada bayi baru lahir sehingga menghindari terjadinya perburukan klinis
Tujuan
Untuk mencegah perburukan klinis dan mencegah kematian bayi akibat mengalami gangguan pernafasan.
Kebijakan
Sesuai Surat Keputusan Direktur Rumah Sakit Umum Nomor 103 Tahun 2018 Tentang Pelayanan Pasien Resiko Tinggi.
Prosedur
Persiapan Pasien
Beritahu keluarga tentang prosedur tindakan
Persiapan alat
1. Alat penghisap lender
• Mesin suction
• Cateter suction
2. Peralatan ventilasi
• Ambubag
• Reservoir oksigen untuk memberikan O2 90-100 %
• Sungkup wajah dengan bantalan pinggir, ukuran neonates cukup bulan dan premature
• Oksigen dengan pengukur aliran ( flow meter ) dan pipa oksigen
3. Peralatan intubasi
• Laringoskop dengan daun lurus No. 0 ( prematur ) dan no 1 ( neonates cukup bulan )
• Endotrakheal tube no 2,5,3,3,5,4
• Mandrin
4. Obat-obatan
• Epinefrin 1 : 10.000
• Cairan resusitasi
• Natrium bikarbonat 4,2 %
5. Persiapan lainnya
• Alat pelindung diri
• Infant warmer
• Kain hangat
• Stetoskop
• Plastik
• Inkubator transport
• Oksimeter
• Spuit
• Gunting, plester
• Selang NGT
• Orophharingeal untuk neonates
Cara kerja :
1) Persiapkan peralatan. Pastikan semua alat berfungsi dengan baik. Tim resusitasi memakai alat pelindung diri. Set suhu ruangan 24-26 derajat
2) Dokter jaga ruangan : Nilai resiko bayi untuk kebutuhan resusitasi ( Bayi lahir cukup bulan, air ketuban jernih, lahir langsung bernafas atau menangis, tonus otot baik ). Bila jawaban TIDAK, maka langsung berikan kehangatan. Posisikan dan bersihkan jalan nafas bial perlu dan keringkan, stimulasi pernafasan.
3) Bila Apneu atau frekuensi jantung kurang 100x/menit. Berikan Ventilasi Tekanan Positif ( VTP ). Bila FJ > 100 x/menit, bernafas tapi sianosis, berikan tambahan oksigen dengan CPAP ( Continuous Positive Airway Pressure ). Bila sianosis menetap berikan VTP. Tapi bila kulit menjadi kemerahan, lanjut ke perawatan observasi.
4) Setelah diberikan VTP nilai FJ, bila FJ <60 x/menit, berikan VTP dan lakukan kompresi dada. Bila FJ meningkat >60 x/menit teruskan pemberian VTP. Tetapi bila frekuensi jantung tetap < 60 x/menit berikan epinefrin ( dosis 0,1-0,3 ml/kg larutan 1 : 10.000 , setara dengan 0,01-0,03 mg/kg). tindakan ini dapat diulang.
5) Bila ketika diberikan VTP, FJ > 100 x/menit, bernafas dan kulit kemerahan, lanjut ke perawatan pasca resusitasi.
6) Pada waktu pemberian VTP, perlu dipertimbangkan intubasi endotrakheal sesuai dengan keadaan klinis bayi. Waktu melakukan intubasi endotrakheal tidak melabihi 20 detik.
7) Ingat, penilaian bayi tidak boleh lebih dari 30 detik sudah harus mengambil tindakan yang tepat.
8) Hal-hal yang perlu diperhatikan sewaktu kompresi dada, frekuensi kompresi 90 kali permenit dengan ventilasi 30 kali permenit ( 45 : 15 dengan dua penolong dalam waktu 30 detik ). Perhatiakan setiap kompresi harus recoil sempurna dinding dada. Kedalaman kompresi 1/3 dinding anterior posterior dada ( 4 cm ), hindari interupsi selam kompresi. Interupsi hanya dilakukan ketika memeriksa frekuensi jantung ( hitung 6 detik dikalikan 10 )
9) Bila kegawatan berhasil ditangani, segera pindahkan bayi ke ruang CCU ( Critical Care Unit ) jika memungkinkan atau jika tidak segera dirujuk, sebelumnya jelaskan kepada orang tua bayi dengan meminta persetujuan yang dituangkan dalan inform consent.
10) Bayi dipndahkan ke ruang CCU dengan berkoordinasi dengan dokter jaga CCU atau perawat
11) Catat hasil tindakan dan observasi dalam lembar CPPT
1. Intalasi Gawat Darurat
2. Rawat Inap
3. Rawat Jalan
4. Critical Care Unit
5. Kamar Operasi
SPO Resusitasi Jantung Paru Neonatus by otodidakblend on Scribd